Cahaya Islam Dari Sebuah Surat

 

Penuturan Khalid Ibn Walid disarikan dari :

Hayatus Sahaba / The Lives of The Sahaba

Muhammad Yusuf Kandhlawi

***

Aku mengikuti seluruh pertempuran kaum musyrikin melawan Rasullullah SAW. Tidak satupun tujuan yang kupikirkan dalam pertempuran – pertempuran itu kecuali membunuh Rasulullah SAW dan para pengikutnya.

Suatu ketika menjelang perjanjian Hudaibiyah kulihat Rasullullah SAW melakukan shalat Zuhur bersama para sahabatnya. Bersama pasukan kavaleri yang aku pimpin aku ingin segera menghampiri dan membunuhnya. Keinginanku berbuah kegagalan. Karena ia telah mengetahui niatan-ku. Kegagalan saat itu (ternyata) adalah sebuah kebaikan buatku.

Aku terus mengamati dirinya. Tumbuh rasa penghormatan dalam dadaku melihat ia melakukan shalat Ashar dengan cara shalat Khauf (shalat dalam suasana perang) bersama para sahabatnya. Aku termenung, ada sebuah kekuatan yang tidak mampu aku lihat selalu melindungi manusia ini.

Setelah Hudaibiyah, aku berpikir tidak ada lagi yang dapat menahan laju kemenangan Islam. Aku harus pergi untuk mempertahankan agama nenek moyang-ku.

Kemana kuharus pergi? Tak mungkin aku menghadap Najasyi di negeri Ethiopia, karena ia melindungi para sahabat Rasulullah SAW. Ia telah menjadi seorang muslim. Tak mungkin pula aku menemui Heraclius penuasa Rum. Tak sudi aku serahkan agama nenek moyangku untuk memeluk Islam, Nasrani atau Yahudi. Pilihan terakhir adalah pergi ke Persia para penyembah api, atau aku menutup diri di rumahku.

Tak lama berselang Rasulullah SAW bersama para sahabatnya memasuki Makkah untuk melakukan umrah. Aku pergi mengasingkan diri. Saudara lelaki-ku telah menjadi muslim, Walid bin Walid, juga turut dalam rombongan umrah mereka. Ia mencariku dan meninggalkan untuk-ku sebuah surat.

Bismillah Ar-Rahmaan Ar-Rahiem. Tidak pernah aku melihat sesuatu yang sangat mengherankan kecuali melihat dirimu yang masih terpisah dari Islam, padahal dirimu adalah ruang kebijaksanaan. Tiada seorangpun sekelas dirimu yang lari mengabaikan Islam.

Rasullullah SAW telah menanyakan perihal dirimu kepadaku,

“Kemana Khalid, bagaimana mungkin manusia sekelas dia berpaling dari Islam? Suatu kebaikan baginya bila ia sumbangkan segenap kemampuannya di jalan ini. Aku lebih menyukainya memeluk Islam dibandingkan yang lain”.

Sadarlah wahai Khalid. Bayarlah kesalahanmu selama ini yang telah memerangi Rasulullah SAW.

Ssaudaramu,
Walid bin Walid

Ketika kubaca surat itu, aku terhenyak. Hatiku condong pergi ke Madinah. Keinginanku menuju Islam mulai tumbuh. Rasa bahagia bersemi mengetahui begitu besar harapan Rasullah SAW terhadapku.

Satu kali pula aku bermimpi. Kumasuki negeri yang luas dan subur setelah lari dari negeri yang penuh paceklik dan kelaparan. Aku tanyakan arti mimpi itu kepada Abu Bakr RA. Menurutnya, masuknya aku ke negeri yang luas dan subur adalah masuknya aku ke dalam Islam. Negeri paceklik dan kelaparan adalah agama nenek moyangku. Seluruh kejadian itu semakin membulatkan tekad-ku untuk bertemu Rasullah SAW dan memeluk Islam.

Aku tiba di Hirrah, kawasan sekitar Madinah sewaktu Zuhur di bulan Safar 8 H. Rasulullah SAW sangat gembira mengetahui kedatanganku. Saudara lelaki-ku ada di sana, “ Cepatlah, Rasullah SAW menantimu. Ia sangat gembira mengharapkan engkau”.

Aku kenakan pakaian yang sesuai dan bersih untuk bertemu Rasulullah SAW. Bergegas aku menjumpainya. Kumasuki tenda di mana ia tinggal. Ketika kemudian kulihat wajahnya, ia tersenyum. Aku menghampirinya hingga berdiri di hadapannya. Aku ucapkan salam. Ia membalas salamku dengan wajah bersinar penuh bahagia.

Tak menunggu lama aku bersaksi,

”Asyhadu alla ilaa ha illAllah wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah.”

Lalu Rasullulah SAW memintaku untuk mendekat, ia berkata,

”Segala puji bagi Allah yang telah membimbingmu menuju cahaya Islam. Yang mengetahui segenap kebijaksanaanmu. Semoga Ia terus membimbingmu dalam kebaikan.”.

Aku memohon kepadanya,

”Ya Rasulullah, aku teringat seluruh peperanganku untuk melawanmu. Dan aku teringat seluruh perlawananku terhadap kebenaran yang kau sampaikan. Berdo’alah kepada Allah agar dosa-dosaku diampuni”.

Ia pun menjawab,

“Wahai Khalid, memeluk Islam telah menghapuskan dosa-dosamu sebelumnya”.

Aku tetap memohon kepadanya,

“Ya Rasulullah, walau begitu, tetap berdo’alah untuk-ku”.

Maka Rasulullah SAW pun berdoa khusus untuk-ku,

“Ya Allah ampunilah dosa-dosa Khalid yang telah menghalangi jalan-Mu”.

Demi Allah, setelah saat itu Rasulullah SAW tidak pernah memperlakukan lagi para sahabat lain, yang memeluk Islam setelah itu, sebagaimana aku telah diperlakukan.

***

“Ketika Allah menghendaki kebaikan bagiku maka Ia anugerahkan Islam dalam hatiku, lalu Ia membimbingku dalam jalan yang lurus.” (Khalid bin Walid Radiyallahu Anhu)

Eko Hardjanto – Eindhoven Januari 2009

Leave a Reply