Jakarta .- Belakangan ini rumor pengganti Wapres Boediono muncul ke permukaan. Sejumlah inisial muncul, termasuk nama Edhie Baskoro Yudhoyono. Ada apa dengan rumor liar ini?
Kemunculan nama-nama pengganti Boediono mengingatkan rumor yang sama saat proses lobi politik jelang paripurna DPR tentang Bank Century beberapa waktu lalu. Kini secara sistematis nama-nama calon pengganti Wakil Presiden Boediono muncul. Modusnya pun menggunakan sumber anonim.
Sejumlah nama berasal dari partai koalisi yang dalam voting paripurna DPR lalu memilih opsi C (bailout Century bermasalah) dimunculkan. Seperti dari Partai Golkar ada Aburizal Bakrie (ARB), Akbar Tandjung (AT). Di PAN ada Amien Rais (AR) dan Hatta Rajasa (HR). Sedangkan di PKS muncul nama Anis Matta (AM). Terang saja, semua nama yang diembuskan menolak rumor itu.
Penasehat The Indonesia Institute Indra Jaya Piliang menegaskan jika pun pada akhirnya Wapres Boediono mundur dari jabatannya, justru yang paling tahu pengganti Boediono adalah SBY, bukan partai politik. Persis saat penentuan Wapres Boediono pada Mei 2009.
“Makanya saya bilang, kalau isunya seperti itu, lebih baik Edi Baskoro Yudhoyono (Ibas) lebih layak menjadi wapres SBY daripada nama-nama yang diedarkan itu,” ujarnya kepada INILAH.COM melalui saluran telepon di Jakarta, Kamis (11/3).
Lebih lanjut Indra menilai, munculnya nama-nama calon pengganti Boediono merupakaan kerjaan inner circle Istana. Ia menilai, pola dan gayanya tidak berbeda dengan yang terdahulu, seperti isu pemecatan Sri Mulyani pada Februari lalu setelah terdapat kesepakatan SBY dengan Aburizal Bakrie, isu barter kasus, dll. “Ini cara-cara yang berulang-ulang, yang bertujuan untuk serangan dini. Seolah-olah orang lain berpikir ke arah sana (mengganti Boediono), padahal tidak,” ujarnya.
Ketika ditanya apa motivasi penyebutan nama-nama calon pengganti Boediono, Indra yang menjadi calon anggota legislatif pada Pemilu 2009 dari Partai Golkar ini menilai ibarat kemacetan jalan, mereka lalu melakukan pengalihan jalan kemana-mana yang tidak jelas. “Menurut saya, mereka harus sterilisasi Istana dari masalah politik. Kalau ada masalah politik sebaiknya dimainkan di parlemen oleh orang-orang politik seperti Partai Demokrat dan partai koalisi,” ujarnya.
Rumor perihal keinginan mitra koalisi SBY-Boediono untuk mengincar kursi wakil presiden juga beredar saat sidang paripurna DPR pekan lalu saat pengambilan keputusan tentang opsi mana yang dipilih opsi A atau opsi C.
Dirumorkan partai koalisi yang memilih opsi C memiliki pretensi kuat untuk menggantikan Wapres Boediono. Meski rumor itu muncul dari salah satu petinggi partai peserta koalisi, hanya saja, rumusan dan logikanya sulit dinalar. Karena bagaimanapun, yang memilih pengganti Boediono jika kelak lengser, tetap bertumpu pada pilihan SBY, bukan dari partai koalisi.
Rumor politik seperti munculnya nama calon pengganti Wapres Boediono justru tidak produktif bagi pengembangan demokrasi di Indonesia. Karena bagaimanapun pasca keputusan DPR tentang kasus Bank Century seharusnya antara lembaga kepresidenan dan DPR cooling down untuk menurunkan suhu politik.
Seperti penegasan pengamat Hukum Tata Negara Irman Putra Sidin yang berharap usai Pansus Century semua pihak agar cooling down. “Saya kira, baik Presiden dan DPR harus cooling down usai sidang paripurna Bank Century kemarin. Semua bekerja pada bidangnya masing-masing,” harapnya dalam diskusi di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (10/3).
Penghembusan rumor perihal pengganti Boediono jelas sebagai upaya menaikkan eskalasi politik. Upaya ini pula dapat menimbulkan sikap syak wasangka antarpartai politik, khususnya mitra koalisi. Jika hal ini terus berlarut-larut, tak ubahnya penghembusan rumor itu sebagai upaya sistematis untuk mengganggu kinerja pemerintahan dan parlemen yang sejatinya ditopang partai koalisi SBY-Boediono.
Source : inilah.com, 11/03/10
Komentar Terbaru