Menyimak sejarah para sahabat Nabi SAW langsung membawa ingatan kita kepada sosok Abu Bakr, Umar ibn Khattab, Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib, Hamzah, dan para sahabat utama lainnya yang tergolong Assabiquunal Awwaluun, atau mereka dari kalangan Muhajirin dan Anshor. Namun pernahkah kita mengambil pelajaran dari sejarah sosok sahabat semacam Abu Sufyan dan Ikrimah ibn Abi Jahl?
Abu Sufyan ibn Harb di masa jahiliyah adalah seorang tokoh Quraisy yang terpandang. Khawatir akan hilangnya ketokohan itulah kemudian ia paling gencar memerangi Islam. Dalam sebagian besar kisah kehidupan Nabi SAW menyebarkan Islam, selalu kita dapati Abu Sufyan sebagai tokoh utama penentangnya. Ikrimah ibn Abi Jahl pun demikian. Sebagaimana simbol kekafiran yang dinisbatkan kepada ayahnya, Abi Jahl, Ikrimah membenci Islam hingga akar-akarnya. Namun rencana Allah SWT begitu indah, pada akhirnya karunia hidayah Islam tercurah bagi Abu Sufyan dan Ikrimah.
Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Al-Hadid: 28-29)
Setelah futuh Makkah, lahirlah beberapa sosok pembela Islam yang baru. Abu Sufyan dan Ikrimah ada di antara mereka. Setelah bersyahadat, mereka terselamatkan dari kekafiran setelah dalam kurun waktu duapuluh satu tahun memerangi Islam. Mereka memeluk Islam hanya berselang dua tahun sebelum wafatnya Nabi SAW.
Di masa memeluk Islam, mata Abu Sufyan terluka parah dalam sebuah peperangan, kemudian Nabi SAW berkata kepadanya, “Wahai Abu Sufyan, kemarilah, mana yang kau pilih, aku doakan kesembuhan matamu, atau jaminan Surga?” Abu Sufyan menjawab tanpa ragu, “Ya Rasulullah, aku memilih Surga”.
Sama halnya dengan Ikrimah, sesaat setelah memeluk Islam, Ikrimah berkata,
“Aku memohon kepadamu ya Rasulullah, supaya engkau berkenan memohonkan ampunan untukku kepada Allah atas setiap permusuhan yang pernah aku lakukan terhadap dirimu, setiap perjalanan yang aku lalui untuk menyerangmu, setiap yang aku gunakan untuk melawanmu dan setiap perkataan kotor yang aku katakan di hadapan atau di belakangmu.”
Maka Rasulullah SAW pun berdoa,
“Ya Allah, ampunilah dosa Ikrimah atas setiap permusuhan yang pernah dilakukannya untukku, setiap langkah perjalanan yang dilaluinya untuk menyerangku yang tujuannya untuk memadamkan cahaya-Mu dan ampunilah dosanya atas segala sesuatu yang pernah dilakukannya baik secara langsung berhadapan denganku maupun tidak.”
Mendengar doa yang dimohon oleh Rasulullah SAW itu, alangkah senangnya hati Ikrimah, maka saat itu juga ia berkata,
“Ya Rasulullah! Aku bersumpah demi Allah, aku tidak akan membiarkan satu dinar pun biaya yang pernah aku gunakan untuk melawan agama Allah, melainkan akan aku ganti berlipat ganda demi membela agama-Nya. Begitu juga setiap perjuangan yang dahulu aku lakukan untuk melawan agama Allah, akan aku ganti dengan perjuangan yang berlipat ganda demi membela agama-Nya, aku akan ikut berperang dan berjuang sampai ke titisan darah yang terakhir.”
Dalam perang Yarmuk, Ikrimah turut serta berperang sebagai pasukan perang yang berjalan kaki. Pada waktu itu Khalid bin Walid mengatakan, “Jangan kamu lakukan hal itu, karena bahaya yang akan menimpamu adalah lebih besar!” Ikrimah menjawab, “Karena kamu wahai Khalid telah terlebih dahulu ikut berperang bersama Rasalullah SAW, maka biarlah hal ini aku lakukan!” Ikrimah tetap meneruskan niatnya itu, hingga akhirnya ia gugur di medan Yarmuk.
***
Kisah Abu Sufyan dan Ikrimah memberikan pelajaran kepada kita tentang arti sebuah totalitas dalam menghapus gelimang dosa masa lalu. Ketika kebenaran telah jelas nampak, tidak ada keraguan untuk membelanya. Ketika dosa bergelimang, bukan hanya penyesalan, namun juga upaya nyata untuk menebusnya dengan pahala. Berbahagialah Abu Sufyan dan Ikrimah Radhiyallahu Anhum.
Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan menghapus dosa-dosa…(HR Turmuzi)
***
Eindhoven, 9 February 2011.
Disarikan dari Hayatus Shahabah, Yusuf Kandhlawi
Eko Hardjanto
Komentar Terbaru